Beranda Opini Maafkan Sang Nenek

Maafkan Sang Nenek

0
BAGIKAN

Pada sebuah pementasan yang begitu megah, Suwijo Tejo tampil bersama dengan paduan suara. Semuanya khidmat mendengarkan. Saya memutarnya berulang-ulang. Lagunya enak dan maknanya dalam. Sang budayawan yang berambut gonrong itu memaparkan dengan sentuhan hati yang dalam. Sugih Tanpa Bondo adalah doa lewat syair yang indah dilentungkan. Bagi Suwiji Tejo khawatir besok tidak dapat jodoh adalah salah prasangka yang menghina Tuhan.

Kemarin ada yang gaduh. Sebuah ceremonial yang dihadiri oleh wanita hebat yang masih mencintai kebaya sebagai ciri khas republik ini. Turut hadir Ibu Mentri Prikanan yang jadi model dengan kebaya merahnya. Juga berbagai tokoh bangsa yang berkaum hawa.

Sebuah dentuman yang menggegerkan banyak pihak. Sukmawati membuat semua geram. Membadingkan sari konde dengan cadar, suara adzan dengan suara kidung, sedang pada dasarnya ia terlahir dari rahim seorang wanita islam. Bung Karno mereparasi semua kayakinan bahwa di dunia ini hanya ada satu Tuhan dan sang ayah memeluk Tuhannya di dalam syariat Islam.

Suara Adzan di Dg.Nuhun di kampung saya harusnya diperdengarkan sebelum Mba Sukma membacakan puisi. Ukurannya tak ternilai dari bunyi yang keluar dari rahang kerongkongan tapi seberapa banyak orang yang mengisi shaf setelah iqamah di kumandangkan. Dg.Nuhun ikhlas melakukannya, tanpa ada pertimbangan seberapa oktaf fals suaranya, sebab ia paham bahwa adzan itu adalah sebuah panggilan yang menyebut takbir sebanyak enam kali yang isinya mengulang-ulang kebesaran Tuhan.

Budaya tak bisa disangkut pautkan dengan agama. Sebab budaya hanya sirkulasi kehidupan yang fana dan hanya ada di bumi, sedang agama adalah rentetan petunjuk hidup untuk siapa saja yang ingin kebenaran dan kemuliaan hidup.

Bung Karno tentu tak ingin melihat sang anak menghina agamanya. Saya yakin sebagai ayah bung Karno tak pergi begitu saja, ia menanamkan cinta kepada anak-anaknya. Termasuk tidak ada cinta yang begitu besar selain cinta kepada Tuhannya.

Mba Sukma akan lebih dewasa sebagai nenek untuk cucu-cucunya. Sajadah itu masih bisa terbentang, lidah masih fasih untuk untuk memperbaiki syahadat, jiwa raga masih bisa untuk menjemput khittah yang sebenarnya. Semuanya belum terlambat. Tuhan selalu memberi hambanya ruang untuk kembali, walau se jauh apapun kita kita pergi.

Syariat adalah ciptaan ilahi bukan ciptaan sendiri. Mba sukma harus melihat dan merasakan dengan baik, sebab tak hanya suara adzan sebuah panggilan itu datang, tapi ada panggilan Tuhan sebagai sebaik-baik persandaran.

Saatnya umat kembali merapikan diri, menafikkan peristiwa ini agar lebih baik. Tak usah lagi sangkut pautkan dengan politik di 2019 nanti, sebab masih banyak tugas yang harus di entaskan negeri ini.

Mba Sukma menghantarkan kesadaran kepada kita semua, bahwa banyak yang bisa mencintai islam dengan puisi. Semoga ini tak akan terulang lagi. Mari memaafkan anak sang pendiri bangsa dengan hati yang begitu bersih.

AT. Abadi

Makassar, 05/04/2018

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here