Beranda Opini Dilan 2018: KOPLENG dan VOC

Dilan 2018: KOPLENG dan VOC

24
0
BAGIKAN

Oleh: Adham Daeng Remba
Sekertaris Bara JP (Barisan Rakyat Jalan Perubahan) Makassar

Suasana Kota Makassar sejuk hari ini, gerimis baru saja sedikit “mendinginkan” sejenak “Gerah” nya rivalitas Dumay a.k.a MedSos masing-masing TimSes (Tim Sukses) entah pada Kontestasi Pilgub ataupun Pilwali Juni 2018 nanti.

Menikmati sruputan Kopleng (Kopi Le’leng-istilah penikmat kopi di Kota Makassar) saya sembari berselancar cantik di Dumay (Dunia Maya-Media Sosial)..Ahh..rupanya ada opini yang kembali ter-viral, batinku.

Adalah sebuah opini yang akhir-akhir ini sepertinya memantik rasa penasaran para Netters (Pencinta Dumay) tentang hikmah atau latar belakang tulisan dimaksud. DANNY POMNTO vs VOC begitu kira-kira judul tulisan yang dirilis pada 5 Februari 2018 oleh Maqbul Halim (MH).

Judulnya memang Ngesap (Ngeri-Ngeri Sedap) pikir ku, apakah ini di rilis untuk memberikan pemahaman logis kepada khalayak Dumay tentang sejarah keberadaan VOC di Nusantara ini kala itu atau sekedar “merekatkan” sejarah untuk personifikasi. Penuh hikmad, paragraf demi paragraf ku telisik, mencari personifikasi-personifikasi diksi yang dipakai penulis sehingga opini itu menjadi pergunjingan para Netters.

“Zaman dulu, bangsa Indonesia tidak mempersoalkan siapa itu Ir Soekarno, juga tidak bertanya siapa itu Bung Hatta. Kedua orang ini tidak digugat dengan pertanyaan, mereka itu anaknya siapa, dari daerah mana, dari suku apa, pengusaha atau birokrat, dan lain-lain! Lalu mengapa bangsa Indonesia bersatu bersama Soekarno-Hatta bergerak untuk melakukan perlawanan? Itu terjadi lantaran yang dilawan oleh Soekarno-Hatta adalah kolonial.

Bahkan, bangsa Indonesia pun berkepentingan mempahlawankan Sultan Hasanuddin dari kerajaan Gowa-Tallo. Kenapa? Satu-satunya jawaban yang paling taktis adalah karena Sultan Hasanuddin gigih melawan bangsa kolonial yang berbaju VOC. Mengapa VOC pada saat itu? VOC hendak mendikte Sultan Hasanuddin agar VOC-lah satu-satunya persekutuan datang yang boleh berdagang dan berbisnis di kerajaan Gowa-Tallo melalui pelabuhan Makassar.

Bangsa kolonial. Titik. Itulah sebabnya warga Kota Makassar berdiri bersama Danny Pomanto melakukan perlawanan di Pilkada Makassar 2018, seperti perlawanan yang dilancarkan Bung Karno, Bung Hatta, dan Sultan Hasanuddin di atas.”, (Saya kutip dari www.skuadronteam.com), cukup lama saya terhenti dan memahami paragraf-paragraf ini, mencoba menelusuri ruang-ruang pikir penulis-Maqbul Halim (MH).

Seteguk kopi hitam menyela perhatianku pada tulisan MH. Hembusan asap rokok mengepul membubung ke ruang selasar plafon warung kopi di bilangan Topaz. Saya terus menerawang pilihan-pilihan diksi MH dalam mengilustrasikan “Pelawanan” Danny Pomanto sebagaimana tulisannya.

“Saya memandang, ini bukan tentang nasib dan masa depan Kota Makassar, tetapi tentang marabahaya yang sedang dilawan oleh Danny Pomanto di Pilkada Kota Makassar 2018. Marabahaya tersebut adalah KESERAKAHAN, KETAMAKAN, dan KERAKUSAN, yang pada jaman kolonial Belanda, disingkat dengan akronim VOC.

Saya yakin, Danny Pomanto akan menang dalam perlawanan ini. Itulah sebabnya sehingga saya mengajak orang-orang berdoa agar Danny Pomanto dilindungi oleh Kerajaan Tuhan, satu-satunya kerajaan yang bisa mengalahkan kerajaan bisnis di Kota Makassar tersebut.

Saya ingatkan, bukan suku Banjar, bukan suku Minahasa, bukan suku Jawa, bukan suku Ambon, bukan suku Minang yang melawan Danny Pomanto dan yang akan menguasai Kota Makassar di Pilkada Makassar 2018 ini. Bukan suku-suku itu. Melainkan SUKU CADANG. Suku ini telah mendirikan DEALER di mana-mana…”, (kutipan dari www.skuadronteam.com).

Hmmm…nampaknya pada paragraf-paragraf inilah kemudian MH sebagai penulis memberikan penekanan atas pilihan judul tulisan nya, pikirku.

Saya berandai, jika saja tulisan opini itu bukan oleh MH, yang juga sebagai Ketua Tim Media salah satu kandidat di kontestasi Pilwali, dan merupakan salah satu pengurus Partai Politik (yang baru saja “check in” kembali), Apakah akan se-Viral itu dan tetap memantik ke-kepo-an para Netters? Apakah tulisan itu sampai dan menggugah nurani perlawanan masyarakat Kota Makassar ?. Aahhhh…ternyata saya juga Kepo Binggitss…

Jadi teringat, bagaimana peluh keringat bercucuran mendorong motor butut ku meski sedikit gerimis gegaraTali Kopleng Motor butut ku putus sesaat menuju warung kopi, untung saja Suku Cadang nya mudah di peroleh.

Salam Demokrasi Santun !!!

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here