Beranda Opini SANGGARA’ UNTI dan ANOMALI PILKADA

SANGGARA’ UNTI dan ANOMALI PILKADA

67
0
BAGIKAN

Opini, TR — Makassar bukan lagi kota sepi saat malam memunggunginya. Adalah Pantai Losari di kekinian telah ber-transformasi menjadi sebuah kawasan dengan pusaran magnet luar biasa. Sebagai epicentrum interaksi sosial, ekonomi bahkan Dewi Cinta, Pantai Losari tidak lagi sekedar “menjual” sunset dan semilir angin nya, akan tetapi beragam suguhan yang semakin me-mileneial-kan “dirinya”.

Saat seorang kawan mampir di Makassar sebelum bertolak ke Jakarta untuk satu perjalanan dinas bertanya, Kaka..Pisang Epe Masih adakah tidak. Sebegitu populer nya kah varian penganan tradisional berbahan dasar Pisang pikirku. Tidak ingin membiarkannya berlama-lama menahan rindu, kami bergegas ke Arah Pantai Losari, dan mampir di salah satu gerobak.

“Mau rasa apa adee…?”, sembari memperlihatkan menu dengan beragam invosasi rasa Pisang Epe. Kawan ku shock, Kaka…ada banyak kah Jenis Pisang Epe. Dengan tersenyum saya mencoba menjelaskan sedikit tentang Pisang Epe Milenial itu.

Setelah melepaskan rindu dengan Pisang Epe, kami beranjak ke salah satu sudut di jalan Sungai Cerekang, meski tak sepadat anjungan Pantai Losari, akan tetapi tempat ini tetap menjadi favorit dengan suguhan khas Sara’ba (sejenis wedang jahe) dan Unti Sanggara’ (pisang goreng).

“Naahh…ini kaka yang su lama ade rindu, minum Sarabba’ dan PisGor”, sambut nya girang. Ini Sanggara’ Unti kataku mencandainya, entah paham atau tidak kawan ku manggut-manggut seraya memulai seruputan secangkir Sarabba’.

Unti-Bahasa Makassar (pisang), secara stuktur bentuk berdaun besar memanjang yang tersusun dalam tandan dengan kelompok-kelompok menjari yang disebut sisir, berasal dari suku/ordo Musaceae dengan beberapa jenis (Musa acuminata, M. balbisiana, dan M. ×paradisiaca). Kandungan gizi sangat baik seperti kalium, magnesium, fosfor, besi, dan kalsium serta mengandung vitamin C, B kompleks, B6, dan serotonin yang aktif sebagai neurotransmitter dalam kelancaran fungsi otak.

Lalu ketika Unti atau pisang kaka menjadi gorengan atau populer dengan sebutan Sanggara’ Unti dalam bahasa daerah (Makassar) terproses oleh minyak jelanta, sehat kah seng kaka? memotong ulasanku dengan dialek khas daerahnya.

Gleek…seingsut saya terdiam…lalu menjawabnya, kita serahkan pada pihak-pihak yang memiliki kompetensi menganalisa menjadi jawaban presisi. Kemudian kami berdua tertawa lepas.

“Ohh…seperti pilwali dan pilgub kak?..”, nah lhooo…kok kesana jawabku. Frans-nama kawan ku tadi dengan gaya khasnya menjelaskan bagaimana Dia me-metamorfosa-kan anomali pilkada dan Sanggara’ Unti.

Proses sebuah keputusan atau pilihan politik yang dilakukan oleh para elite partai politik seringkali membuat publik, pemerhati, dan ilmuwan politik tercengang dibuatnya. Bagi para elite penentu keputusan, hal tersebut adalah tindakan ‘rasional’, dan sebuah “kewajaran”, akan tetapi bagi sebagian yang lainnya apa yang diputuskan dus kemudian menjadi sebuah ketetapan merupakan tindakan yang sangat tidak masuk akal atau dapat melukai nurani publik. Frans-kawan ku menghentikan sejenak ulasan nya dan kembali meneguk Sarabba’ yang mulai dingin.

“Asyikeee…encer toong anne otak na teman ku bela”, membatin.

Anomali adalah penyimpangan atau keanehan yang terjadi atau dengan kata lain tidak seperti biasanya. Anomali juga sering di sebut sebagai suatu kejadian yang tidak bisa diperkirakan sehingga sesuatu yang terjadi akan berubah-ubah dari kejadian biasanya. Sambung Frans sembari menikmati kepulan asap rokok kreteknya.

Beragam simbol-simbol yang dimunculkan pada masa pilkada tentu saja dijadikan representasi ciri, khas, jargon atau pun “keramat” semisal penentuan waktu dalam proses pendaftaran di KPU. Lanjutnya.

“Wo..wo..woo..pelan-pelan adee..pusing ma nu pakamma anne bicara anomali siagang politik belaa”, sambil memakan Sanggara’ Unti.

“Apa hubungan nya anne Sanggara’ Unti dengan Anomali Pilkada adee…?”.

Kawanku tertawa, dan mengunci pembicaraan kami, “Sanggara’ Unti dan Pilkada sama-sama butuh “juru masak” handal kaka…”.

“Ommaaaleee…ampuunggka adee…tukang goreng kapang”. Kami kembali larut dan menikmati Sarabba’ dan Sanggara’ Unti tanpa ada simbol-simbol lagi di antara kami berdua.

Adham
Sekertaris Bara JP (Barisan Relawan Jalan Perubahan) Kota Makassar

Parangtambung, 09 Januari 2018.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here