Beranda Opini Arqam Azikin : Progres Politik IYL dan AAN Lebih Maju Dari NA

Arqam Azikin : Progres Politik IYL dan AAN Lebih Maju Dari NA

371
0
BAGIKAN

Makassar, TR — Dinamika menjelang pilgub Sulsel 2018 ini semakin menarik disimak oleh masyarakat.

Persaingan perebutan parpol jelang pendaftaran di KPU tanggal 08-10 Januari mendatang, semakin memperlihatkan begitu tingginya tensi perburuan menuju tahta Gubernur untuk memimpin Sulsel periode 2018-2023 mendatang.

Hal terbaru ketika partai Gerindra yang awalnya mengusung paslon Nurdin Abdullah (NA)- Sudirman Sulaiman (SS) dengan tagline Prof Andalan, diluar dugaan menarik dukungannya dan mengalihkan rekomendasi usungannya ke paslon Agus AN – Tanri Bali Lamo dengan sebutan BagusTA.

Tentunya, ini menjadi pukulan bagi paslon Prof Andalan, bahkan tidak menutup kemungkinan masih ada parpol pendukung sang Prof ini mengikuti jejak partai besutan Prabowo Subianto.

Pengamat politik dan Kebangsaan, Dr. Arqam Azikin menilai paslon NA-SS tidak memanfaatkan rekomendasi Gerindra secara kualitatif, sehingga beralih ke BagusTA.

“Sejak September rekomendasi Gerindra di NA-ASS tapi tdk dimanfaatkan secara kualitatif , akhirnya lepas ke AAN – TBL. Ini menandakan NA lamban dalam proses mekanisme politik di Gerindra”, terang Arqam saat ditemui di cafe IDI Kanrejawa, jl. Boulevard Makassar, Sabtu (06/01/18) sore.

Pendiri Sekolah Kebangsaan ini juga menilai, bila kejadian proses komunikasi politik NA sama juga di partai-partai lain, maka terbuka peluang PAN dan PKS akan meninggalkan NA disebabkan lambannya dalam “deal komitmen politik” dengan elit-elit parpol di Level DPD dan DPP.

Arqam beranggapan, dalam konteks pindah-pindah parpol ini juga sudah terjadi dari awal, waktu PAN dari IYL pindah ke NA, namun pindahnya itu karena tekanan politik orang pusat yang akan ganti TBL jadi paket 02 nya NA.

Perpindahan PAN tersebut, menurut Arqam justru posisi IYL lebih luwes menentukan arah politiknya dengan daftar di jalur independen (calon perseorangan), itupun masih mendapatkan dukungan Partai Demokrat dan PPP.

Arqam melihat, fenomena perpindahan partai yang dialami IYL dan NA ini menarik dicermati, karena berbeda pengaruhnya dialami kandidat gubernur.

“Bila IYL PAN nya “dibajak” oleh NA, namun masih segera daftar ke jalur Independen. Nah, ketika partai Gerindra dan PAN nya NA “dibajak” oleh AAN , apakah NA masih bisa daftar sebagai Cagub ?. Itulah problem komunikasi politik yang mesti segera NA benahi dalam menghadapi pergerakan politik AAN”, pungkas Arqam Azikin.

(Anas)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here