Beranda Kabar Daerah Aktivitas Tambang Pasir Berbuntut, Respon Kepanikan Pemerintah Samar

Aktivitas Tambang Pasir Berbuntut, Respon Kepanikan Pemerintah Samar

1
BAGIKAN

Takalar – Gerakan mahasiswa dan masyarakat tolak tambang pasir takalar hingga hari ini masih bergulir dan terus melakukan penolakan di sejumlah tempat di Sulawesi selatan.

Pasalnya, aktivitas penambangan pasir di galesong-sanrobone itu dinilai telah mengganggu mata pencarian masyarakat pesisir takalar, bahkan dengan adanya aktivitas pengerukan pasir hingga berdampak pada banyaknya ikan laut yang mati akibat terkena bias racun tersebut.

Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat ini bahkan telah melakukan pendudukan di kantor DPRD Kabupaten Takalar selama 2 hari dengan menuntut DPRD secara kelembagaan untuk mendukung perjuangan rakyat takalar yang menolak kehadiran kapal pengangkut pasir Fair Way itu.

Pendudukan selama dua hari inipun menghasilkan 5 dari 6 fraksi menyatakan sikap mendukung perjuangan rakyat takalar dan menolak penambangan pasir yang terjadi di galesong-sanrobone. Bahkan, aliansi ini telah mengirim surat dan petisi penolakan ke kementrian kelautan dan perikanan, serta melakukan Edukasi dan penguatan di internal warga.

Seperti yang dikatakan Salah satu mahasiswa yang terlibat dalam gerakan ini, Asdar Onotz yang ditemui oleh Teropongrakyat.net disela-sela waktunya sedang membuat papan informasi bersama rekannya, di desa magindara, galesong selatan, Senin (7/8/17) sekira pukul 10.39 wita. Ia menyampaikan agar element gerakan lain bisa terlibat dalam solidaritas ini.

“Buruh, Serikat Tani, Gerakan Perempuan dan element lainnya harus melihat persoalan tambang ini sebagai keharusan solidaritas. Kami terus menggalang solidaritas yang luas agar persolan tambang ini mampu menjadi wacana yang diperbincangkan agar aktivitas tambang tersebut segera dihentikan,” beber Asdar.

Massifnya aktivitas reklamasi dan pembangunan sudah pasti akan membutuhkan pasir yang cukup banyak. Jika pengerupan pasir terus dilakukan, meunurut Asdar akan berdampak buruk bagi warga pesisir yang menggantungkan hidupnya sebagai nelayan.

“Bahkan pengakuan nelayan, semenjak kapal pengeruk pasir itu (Fair Way) beroperasi pendapatannya Selama mencari ikan disekitar laut galesong-sanrobone menurun drastis. Belum lagi belakangan ini kita temui lumba-lumba, penyu hijau dan paus terdampar di pesisir galesong kemungkinan ini akibat dari aktivitas penambangan pasir,” ujarnya.

Diketahui, jenis kapal yang melakukan pengangkutan adalah Trailing Suction Hopper Dredger (TSHD) yang memiliki kapasitas 35.500 m³, daya angkutnya setara dengan 2.500 Truk sekali angkut, daya angkut sebanyak itu sudah pasti Mempercepat abrasi dalam sehari kapal Fair Way melakukan pengerupan minimal 2 kali. Akibatnya, abrasi sudah sangat jelas bisa kita saksikan di daerah galesong-sanrobone jangankan 10 bulan pengerupan 2 bulan lebih saja sudah dapat kita saksikan dampaknya.

“Aliansi kami terus melakukan upaya, dan pastinya perlawanan kami tidak akan berhenti. Persoalan tambang pasir ini akan kami diskusikan di kampus-kampus khususnya kampus di makassar agar mendorong mahasiswa lain lebih peka dan terlibat dalam perjuangan ini salah satu upaya kami. Dan pastinya aliansi ini terus mengupayakan agar seluruh masyarakat sekitaran pesisir memahami persoalan ini, bukan hanya tokoh masyarakat dan segelintir orang, tapi keseluruhan masyarakat Agar gerakan ini semakin membesar,”

“Kami memahami bahwa aktivitas penambangan setiap harinya melakukan pengerupan tapi langkah yang coba kita dorong penuh perhitungan, agar tidak terjadi kesalahan bahkan kegagalan, yang pastinya kami tidak akan pernah berhenti. Dan untuk pemerintah agar segera mengambil langkah yang sifatnya pro dengan perjuangan rakyat takalar dan sesegera mungkin mengambil tindakan penghentian tambang pasir,” tegas bung Onotz sapaan akrabya.

 

Penulis : Wawan | Editor : Anas

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here